Hidup Ini Meletihkan

Home / Inspirasi / Hidup Ini Meletihkan

Hidup Ini Meletihkan

Selama ini mungkin kita bekerja hanya untuk mencari uang. Uang sudah terkumpul dan bahkan mungkin melebihi yang kita inginkan, di titik itulah kita akan merasa bahwa uang tidak akan membahagiakan hati kita.

Pagi, siang, sore, bahkan malam kita masih bekerja hanya untuk mengumpulkan uang. Ya, uang yang padahal kita sudah tahu bahwa itu tidak akan kita bawa mati. Tapi, kita rela mati-matian hanya untuk mengejar uang dan tanpa sadar melalaikan apa sebenarnya tujuan hidup ini.

Sejak 6 tahun lalu, saya sudah menggeluti dunia bisnis mulai dari bisnis baju batik, jual sepatu kulit, jam tangan, kaos sablon, pulsa, dan bahkan saya juga pernah jualan tahu goreng pakai gerobak juga jualan pop ice pakai gerobak. Dan disaat itu pula tujuan hidup saya hanya untuk uang dan menjadi orang kaya. Segala macam rintangan, jatuh bangun, dicaci, dimaki, dibenci, dipuji, dimuliakan, disegani, dihormati, dikhianati, dimanfaatkan, dibohongi, semuanya sudah pernah saya rasakan. Sampai pada akhirnya saya mendapatkan apa yang saya inginkan sejak 6 tahun yang lalu.

Ternyata, kekayaan, apa yang saya ingingkan sejak 6 tahun yang lalu, sama sekali tidak membahagiakan. Benar-benar tidak membahagiakan. Mengapa? Karena kekayaan itu kita nikmati sendiri. . . . .

Dahulu makan sehari 2 kali, sarapan dirapel makan siang dan makannya di warteg minta porsi kuli. Untuk malamnya, biar ngirit tidak makan di warteg, tapi cukup minum oki jelly drink atau energen sebagai pengganjal perut. Makanya badan kurus kering kayak foto di bawah ini. 😀

dulu

Foto 2011

Sekarang, Alhamdulillaah, makan bisa 3x sehari dan tercukupi gizinya, makanya sekarang transformasi jadi seperti ini :

didik-subi-profile

Foto 2016

Disaat seperti ini, ternyata sama sekali tidak membahagiakan. Hal yang dapat membahagiakan adalah bukan saat kita bisa makan 3x sehari dengan makanan enak yang bebas kita pilih. Ternyata hal yang membahagiakan adalah ketika kita bisa memberikan makan kepada orang yang membutuhkan, meski hanya sebuah nasi bungkus saja.

Setiap hari kita kerja keras mencari uang, menumpuk uang, dan sebanyak apapun uang yang kita kumpulkan jika ajal sudah mendekat tentunya uang yang kita kumpulkan tidak akan lagi berguna buat kita kecuali yang kita sodakohkan.

Baru saja ada kabar bahwa Raja Thailand baru saja menutup usia di umur 88 tahun. Kekayaannya sekitar 300 – 500 TRILIYUN. Ya, triliyun. Bukan lagi milyar, tapi TRILIYUN.

Yang membuat saya kaget bukanlah jumlah kekayaannya. Melainkan, kekayaan sebanyak itu ternyata tidak bisa membuatnya hidup lebih lama. Setidaknya dengan uang sebanyak itu, dia bisa mencoba membuat teknologi yang dapat membuat umurnya abadi misalnya. Ternyata, tidak sama sekali.

Sekaya apapun kita, sebanyak apapun uang yang kita kumpulkan, ternyata tidak bisa menunda KEMATIAN kita meski hanya SEKEJAP. Lantas mengapa kita mati-matian mengumpulkan dan menimbun harta?

Ya, memang hidup ini sangat meletihkan ketika kita hanya mengejar dunia.

“Sampai pada akhirnya saya sadar bahwa, kebahagiaan itu bukan terletak pada harta. Melainkan kebahagian itu terletak saat saya duduk bersama ulama. Duduk menimba ilmu untuk bekal meninggalkan dunia.”

 

Recent Posts
Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt