Sistem Perekonomian Islam Sekarang dan Dahulu

Sistem perekonomian Islam di Indonesia sekarang mengalami penurunan yang sangat drastis. Sangat berbeda dengan perekonomian jaman sahabat Nabi dahulu.

Di jaman sahabat, dalam membangun sebuah bisnis selalu berjamaah. Setiap mendengarkan Adzan saat berdagang, dagangannya pun ditinggal dan langsung menuju masjid untuk solat berjamaah tanpa takut barang-barangnya dicuri. Semuanya dilakukan secara berjamaah, berjamaah dan berjamaah.

Beda dengan sekarang, jangankan untuk bisnis berjamaah, untuk solat jamaah ke mesjid saja sering kita lalaikan. Mungkin kita juga lebih sering solat munfarid dan diakhir waktu daripada untuk berjamaah. Di bidang bisnis, kita sekarang maunya memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkan umat. Maunya kaya sendiri, punya banyak duit sendiri, padahal hal semacam ini akan memicu kita untuk terkena sifat sombong. Naudzubillah.

Saking sempurnanya sistem perekonomian Islam yang diterapkan jaman dahulu, terlebih saat jaman kepemimpinan Umar bin Khatab serta Umar bin Abdul Aziz yang juga cucu dari Umar bin Khatab, saat itu pengurus baitul maal sampai kesulitan untuk mencari orang miskin untuk diberikan zakat. Sungguh luar biasa sekali, semua orang-orang sudah terpenuhi dari sisi hartanya jaman dahulu. Sangat berbeda sekali dengan sekarang.

Coba lihat daftar orang terkaya di Indonesia tahun 2014 menurut Forbes, disitu tertulis jelas bahwa 8 dari 10 orang terkaya di Indonesia beragama non-muslim. Di jaman sekarang, saya lebih melihat bahwa Islam ini adalah identik dengan orang miskin. Perusahaan-perusahaan besar di Indonesia bahkan di dunia, hampir semuanya dimiliki oleh orang-orang non-muslim. Sekali lagi, Islam identik dengan orang miskin. Menurutmu gimana?

Jaman dulu, orang mati-matian membela agama mereka demi satu kata JIHAD. Jaman sekarang seperti apa? yang saya lihat, jaman sekarang bukannya membela agama tapi lebih malah menjual agama. Saya terlahir dikeluarga sederhana dimana lingkungan hidup saya juga sederhana. Saya sering sekali melihat orang-orang Islam disekitar saya dulu rela menjual agama demi sesuap nasi. Mereka rela murtad hanya karena ingin mendapatkan santunan dari agama lain. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang non-islam untuk menarik orang agar masuk ke agamanya. Dan ini adalah FAKTA dan mungkin terjadi juga disekitaran Anda.

Jaman dulu, orang cenderung mengejar akhirat tanpa mempedulikan dunia dan seisinya. Hidupnya fokus untuk mencari bekal untuk kehidupan selanjutnya yaitu di akhirat. Dengan pemikiran seperti ini, Allah malah memberikan dunia dan seisinya sebagai bonus bagi mereka yang benar-benar memikirkan akhirat sebagai tujuan hidupnya.

Lain halnya dengan jaman sekarang, orang mati-matian mengejar dunia sampai melalaikan akhirat. Orang mati-matian ingin menjadi kaya raya tapi lupa mendekat kepada Yang Maha Kaya. Orang mati-matian mengejar harta yang sebenarnya hanyalah fana.

Saya berikan contoh sederhana dari analogi diatas. Sekarang banyak sekali muncul pengusaha-pengusaha muda baru di Indonesia. Pengusaha-pengusaha baru ini biasanya membutuhkan MODAL UANG untuk mengembangkan atau memulai usahanya. Karena bingung mau mencari modal kemana, akhirnya mereka lari ke Bank, meminjam uang untuk mengembangkan usahanya, dan akhirnya terjerat ke dalam RIBA.

Riba Itu Ada 73 Pintu (Dosa). Yang Paling Ringan Adalah Semisal Dosa Seseorang Yang Menzinai Ibu Kandungnya Sendiri. Sedangkan Riba Yang Paling Besar Adalah Apabila Seseorang Melanggar Kehormatan Saudaranya.”(HR. Al Hakim Dan Al Baihaqi Dalam Syu’abul Iman Syaikh Al Albani Mengatakan Bahwa Hadits Ini Shahih Dilihat Dari Jalur Lainnya)

Betapa mengerikannya kondisi perekonomian umat islam sekarang, lantas apa SOLUSI dari semua permasalahan ini??????

 

Tunggu lanjutan postingan saya ya 😉

Recent Posts
Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt
harta yang melalaikan